Irshad Manji, Kebebasan Akademik, dan “Salam Pantat”

Acara diskusi Irshad Manji, yang bertema “Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral", di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM), 9 Mei 2012 dibatalkan pimpinan Universitas.  Situs www.merdeka.com (9/5/2012) memberitakan bahwa dalam akun twiternya, Irshad Manji menyebut, Rektor UGM-lah yang membatalkan diskusi yang diselenggarakan di Center  for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) –pasca sarjana UGM tersebut.

Berbagai pihak kemudian menyesalkan dan memberikan kecaman terhadap keputusan pembatalan diskusi Irshad Manji tersebut. Direktur  CRCS, Dr. Zainil Abidin Bagir, seperti dikutip situs yang sama menyatakan, “Terlalu cepat tunduk pada ancaman berarti hidup dalam dan menghidupi atmosfer  kekerasan itu. Apakah kita (UGM) sudah hidup dan bernafas dari menghirup udara di atmosfer itu?”
Situs http://indonesiabuku.com, (10/5/2012) menulis judul berita “Rektor UGM Tolak Pemikiran Irshad Manji”.

Read more...

Undangan Diskusi Dwi Pekanan INSISTS

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Kami mengundang rekan-rekan sekalian untuk hadir dalam kegiatan rutin Diskusi Dwipekanan INSISTS yang insya Allah akan diselenggarakan pada:

 

Hari / Tanggal : Sabtu / 19 Mei 2012

Waktu : Pkl. 09.00 - 12.00 WIB

Tema : Bedah Buku "Indahnya Keserasian Gender dalam Islam"

Pembicara : Henri Shalahuddin, MA.

Lokasi : Kantor Pusat INSISTS, Gedung GIP, Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta

 

Konfirmasikan kehadiran antum dengan mengirimkan SMS ke 087878147997 dengan menyebutkan nama lengkap. Peserta dibatasi sebanyak 40 orang.

 

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

 

Sinopsis Bedah Buku “Indahnya Keserasian Gender dalam Islam”:

Dalam ideologi feminisme, lesbian ibarat maqam tertinggi yang dicapai seorang feminis. Lesbian membebaskan perempuan dari dominasi dan ketergantungan kepada laki-laki dalam meraih kepuasan seksual. “Keunggulan” lesbian adalah karena ia tidak berangkat dari peraturan mana yang benar dan mana yang salah. Lesbian adalah revolusi moral! Kata feminis. Bahkan seorang doktor terbaik IAIN Syarif Hidayatulah 1996/1997 menambahkan: “Seorang lesbian yang bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini!" Tidak cukup itu, Irshad Manji, praktisi lesbian dari Kanada yang mengaku mujaddidah pun didatangkan untuk menyadarkan umat Islam Indonesia bahwa tidak ada yang salah dengan lesbian.

Mau tahu tema-tema kontroversial seputar paham KKG? Dan bagaimana sejatinya paham keserasian gender dalam Islam? Mengapa ideologi gender yang semula hanyalah wacana akademik transnasional yang bersifat kontroversial tiba-tiba dipaksa untuk dijadikan UU yang harus dipatuhi oleh bangsa Indonesia? Silahkan hadiri acara bedah buku “Indahnya Keserasian Gender dalam Islam” langsung bersama penulisnya.

Bangkitnya Kaum Nabi Luth di Indonesia

Pada tanggal 19 April 1981 masyarakat Indonesia dikejutkan dengan pemberitaan perkawinan dua wanita lesbian yang digelar di Pub daerah Blok M Jakarta Selatan dan dihadiri sekitar 120 undangan. Tentu saja peristiwa ini menjadi pemberitaan yang menghebohkan di kalangan masyarakat, bahkan tidak sedikit yang mengutuknya. Anehnya, pengamat homoseksual Barat, Tom Boellstorff dalam bukunya The Gay Archipelago, Sexuality and Nation in Indonesia, justru memuji keberanian pasangan ini dan menobatkannya sebagai pejuang yang berani membela hak-hak lesbian yang harus diakui oleh publik Indonesia. (JP 58: Seksualitas Lesbian).

Saat Patrialis Akbar menjabat sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, generasi kaum Nabi Luth ini secara lebih berani menuntut pengadaan ruang untuk berhubungan seks di penjara khusus untuk narapidana lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Seperti orang yang telah terputus urat malunya, dengan lantangnya mereka berkata: “Bagaimanapun, LGBT memiliki hak untuk menyalurkan hasrat biologisnya”. (http://www.seruu.com/mobile/artikel.php?sec=13&cat=151&postid=30374)

Read more...

Qunut Nazilah Untuk Irshad Manji

 

Kedatangan lesbi Irshad Manji memicu beragam reaksi umat Islam. Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab Bogor, Selasa (8/5/2012) malam menggelar doa qunut nazilah atas kehadiran pegiat lesbi Irshad Manji. Qunut Nazilah dipimpin oleh Imam Masjid al-Hijri Universitas Ibn Khaldun Bogor, KH Dr. Ahmad Alim, MA.

Usai shalat Maghrib dan pembacaan Qunut Nazilah, Ahmad Alim menjelaskan sejumlah musibah dan fitnah yang menimpa umat Islam Indonesia, seperti usaha legalisasi paham Kesetaraan Gender di DPR, dan juga didatangkannya tokoh lesbi Irshad Manji yang mendukung aktivitas Salman Rushdie, penulis novel The Satanic Verses yang menghujat Nabi Muhammad SAW.

Read more...

Promo Lesbi, Hina Nabi, Lecehkan Al-Qur’an

Sebagian pegiat legalisasi homoseksual dan lesbianisme, tampaknya menjadikan Nabi Luth a.s. sebagai sasaran kebencian dan umpatan mereka. Al-Quran memang menggambarkan perjuangan Nabi Luth a.s. yang begitu berat dalam menghadapi kemunkaran yang dikerjakan kaumnya, sehingga Nabi Luth diusir dari kampungnya.

Al-Quran menggambarkan perjuangan Nabi Luth sebagai berikut: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf:80-84).

Read more...

Irshad Manji: Sepatutnya Diobati!

Irshad Manji, seorang tokoh penggerak dan praktisi lesbianisme datang lagi ke Indonesia, di bulan Mei 2012 ini. Berbagai rencana penyambutan kedatangannya sudah disiapkan di sejumlah kota. Kabarnya, ia akan meluncurkan buku terbarunya, Allah, Liberty & Love, dalam edisi Indonesia.

Irshad Manji memang lesbian ”nekad”. Logikanya, lesbian tidak bangga dengan kelainan seksual yang dideritanya.

Tapi, aktivis liberal Nong Darol Mahmada pernah menulis artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul:Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Katanya: ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”

Jika disimak dari kualitas dan prestasi akademik serta kualitas bukunya, Irshad Manji tampak dengan sengaja dibesar-besarkan namanya. Majalah Ms. menobatkan dia sebagai “Feminis Abad ke-21”. Maclean’s memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”.

Read more...

“Dapur”, “Sumur” dan “Kasur”

Senin (23/4/2002) malam, di satu TV swasta, seorang bintang tamu, perempuan anggota DPR, berucap:  dulu kiprah perempuan hanya berkisar pada “dapur”,  “sumur”, dan “kasur”.  Sekarang, sudah lebih maju.  TV-TV lain pernah juga menampilkan sosok-sosok perempuan  yang dianggap sukses, maju, dan perkasa: mulai anggota DPR, pilot pesawat tempur, penyelam, petinju, sopir truk, tukang ojek, sopir bus, sampai tukang tambal ban.

Ungkapan yang memandang remeh urusan “dapur”,  “sumur”, dan “kasur” sering kali terdengar.  Beberapa profesi bagi perempuan dianggap maju karena kiprahnya tak lagi berkisar seputar  “dapur”, “sumur”, dan “kasur”.  Suatu saat, dalam sebuah rapat, saya mendengar seorang dosen (perempuan) berucap: “Saya tidak suka, kalau ada buku anak  yang masih menulis: ayah membaca koran, ibu memasak di dapur!”

 

Kita tentu sepakat, perempuan harus “maju”, “pandai”, “bebas dari penindasan” dan sebagainya! Masalahnya, yang “maju” apanya? Kadangkala, demi mengejar “kemajuan”, berbagai cara dilakukan!  Ada buku berjudul  Isu-isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah (Pusat Studi Wanita UIN Yogya, 2004).  Buku ini mengkritisi buku ajar di Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah, yang dianggap bias gender.  Contoh:  di buku Pelajaran Fiqh,  Kelas 4 Ibtidaiyah, ada gambar laki-laki sedang bekerja membangun masjid.  Gambar semacam itu dikomentari: “Gambar yang ditampilkan nampak bias, sebab jika dicerna bahwa gambar tersebut membawa dampak pada perempuan itu tidak dapat bekerja menjadi tukang (membangun masjid), yang dapat menjadi tukang itu adalah laki-laki.” (hal. 36).

Read more...

Member Login

Untuk membantu keberlangsungan aktivitas INSISTS, para muhsinin dapat menyalurkan infaqnya ke Bank Syariah Mandiri Cabang Depok, No 0670009088 a.n. Yayasan Bina Peradaban Islam Al-TAMADDUN. Atau BCA No. Rek. 4212344161 an. Adian Husaini
We have 56 guests online