|

Untuk membantu keberlangsungan aktivitas INSISTS dalam dakwah bidang ghazwul fikri, para muhsinin dapat menyalurkan infaqnya ke Bank Syariah Mandiri Cabang Depok No. 0670009088 a.n. Yayasan Bina Peradaban Islam Al Tamaddun. Atau BCA No. 4212344161 a.n. Adian Husaini.
|
|
|
|
Kuliah Bersama Amina Wadud |
|
Ditulis Oleh Henri Shalahuddin
|
|
Pada 4 Juni 2009 lalu, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Jakarta menggelar kuliah umum bertema "Reading for Gender: Al-Ghazali and the Nature of the Person in Islamic Ethic" yang disajikan oleh Prof. Dr. Amina Wadud. Wadud adalah tokoh feminis liberal radikal dan paling kontroversial sepanjang 14 abad menyusul ulahnya mengimami shalat Jumat di sebuah Gereja Katedral di Sundram Tagore Gallery 137 Greene Street, New York pada tahun 2005 lalu. Selanjutnya pada 17/10/08, Wadud kembali menjadi imam dan khatib Jumat di Oxford Centre, Oxford dengan makmum laki-laki dan perempuan bercampur-baur. Shalat Jumat ini adalah aksi pembukaan sebelum memulai Konferensi Islam dan Feminisme yang digelar di Wolfson College, Oxford |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Adnin Armas
|
Politik Sekular Awal abad 20, politik sekular yang sebe lumnya tersebar di Barat, mulai nyusup ke pemikiran para pemimpin dan pemikir Mus lim. Mustafa Kemal Attartuk, Kepala Negara Turki, yang meninggal gara-gara can du alkohol, menceraikan Islam dari politik. Pada tanggal 3 Maret 1924, ia men deklarasikan pelarangan Islam seba gai landasan untuk berpolitik. Ia menentang ekspresi keimanan di ruang publik. Ia melarang penggunaan jilbab, fez (ko piah Turki) di tempat-tempat umum dan menggantinya dengan topi koboi. Ia melarang penggunaan huruf Arab serta mengg alihkannya ke abjad yang berbahasa Latin. Ideologi sekular bukan hanya diprakar sai oleh pemimpin, namun juga disebarkan oleh beberapa pemikir Muslim. Se orang “ulama” al-Azhar, sekaligus menjabat sebagai seorang Hakim Syar’iyyah di al-Manshurah, Mesir, Ali Abdul Raziq me nerbitkan buku berjudul al-Islam wa Usul al-Hukm (Islam dan Dasar-Dasar dari Pemerintahan). Dalam buku yang diterbitkan bulan April 1925, Ali Abdul Raziq menegaskan bahwa Islam sama sekali tidak mengatur pemerintahan. Islam tidak bisa dijadikan sebagai acuan sistem sebuah pemerintahan. Islam hanyalah sebuah norma keagamaan dan sama sekali tidak terkait dengan politik. Bagi nya, Islam jangan diikutsertakan untuk mengatur masyarakat dan negara.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi
|
Suatu ketika Zia ul Haq (alm.) Presiden Pakistan tahun 1977-1989, me ngumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan redaksi koran the Nation. “Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara” , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika Zia, dan lalu men jawab “Politisi”. Zia tersenyum mendengar jawaban itu lalu berka ta, ”Ternyata wartawan sekelas anda masih berfikir sependek itu”. Orang mengira dia akan membanggakan dirinya. Tapi akhirnya ia membuka persepsinya, ”Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual”. Demikian seterusnya dan Zia pun terus berwacana di seputar isu itu.
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Adian Husaini
|
Politik adalah sekedar seni meraih dan mempertahankan kekuasaan, dengan segala cara. Politik harus dibebaskan dari moralitas. Yang penting kuasa. Demi meraih kuasa, tipu sana tipu sini, bukan soal lagi. Bahkan, jika perlu, teror pun digunakan, demi kekuasaan. Pertahankan dan rebut kekuasaan, dengan cara apa pun! |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
|
|
Terakhir Online |
assuyuthi - 02.07.09 jam14:25 deedee - 02.07.09 jam06:00 Brur - 02.07.09 jam02:49 ibnu_ghazi - 01.07.09 jam12:49 adin ayyasy - 01.07.09 jam11:38 zain - 01.07.09 jam09:57 Aripin - 01.07.09 jam08:40 pu3matahari - 01.07.09 jam05:25 aliph - 01.07.09 jam01:13 hafizh - 30.06.09 jam14:32 |
|